Sudah Tepatkah Sistem Nilai Tukar Kita Saat Ini??

Maret 18, 2009 at 4:56 pm 4 komentar

Kira-kira dua bulan yang lalu saat media massa masih ramai memberitakan tentang krisis finansial global yang telah menghampiri banyak negara di dunia, saya sebagai seseorang yang bekerja di institusi perbankan banyak sekali mendapatkan pertanyaan dari kawan dan tetangga lingkungan tempat tinggal. Terkadang pertanyaannya sesuatu yang sangat sederhana dan membuat saya lega karena tidak usah berfikir susah payah. Tapi tak jarang pula mereka mengajukan pertanyaan yang jauh diluar pengetahuan saya. Saya masih ingat salah satu diskusi yang cukup panjang dengan tetangga. Dia adalah seorang insinyur teknik sebagaimana saya. Di suatu obrolan sore dia mengatakan, “saya gak habis pikir, yang krisis negara orang tetapi kenapa kita selalu terkena imbasnya. Dulu saat kita krismon tahun 98 kan Rupiah anjlog terhadap Dollar Amerika, nah, sekarang negara Amerika yang lagi krisis, kok Rupiah bukannya menguat malah terus melemah seperti sekarang. Nilai tukar Rupiah tuh tergantung apa sih sebenarnya. Trus dimana peran Bank Indonesia dalam hal ini.” Terus terang perlu kehati-hatian bagi saya untuk merangkai jawaban. Maklumlah, meski saya bekerja di institusi perbankan, namun saya ditempatkan di bagian yang bukan menjalankan tugas inti (core function) dari institusi perbankan. Hal inilah yang kadang menjadi dilema. Orang tidak mau tahu kita bekerja di bagian apa. Dalam mindset mereka, seseorang yang bekerja di institusi perbankan pastilah mengetahui semua jawaban akan permasalahan ekonomi finansial. Sayapun tidak mau menjatuhkan nilai integritas institusi tempat saya bekerja. Maka untuk menjawab pertanyaan yang membuat saya terpojok itu, terpaksa saya harus menjanjikan waktu lain untuk menjawab pertanyaan mereka. Waktu di kantor saya manfaatkan untuk mendapatkan jawaban yang rasional dari diskusi dengan teman, browsing dan referensi yang tepat. Barangkali pertanyaan tetangga saya tadi juga sempat terlintas di benak Anda yang tidak terlalu banyak mendalami pengetahuan bidang ekonomi finansial atau bahkan moneter. Saya dapat mengawali penjelasan saya dari bagaimana Bank Indonesia telah mengerahkan semua effort untuk mencapai tujuan tunggal yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, diantaranya dengan menaikkan BI Rate, Intervensi Pasar dan pengaturan transaksi valuta asing. Apa itu BI Rate dan untuk apa BI Rate dinaikkan? BI Rate merupakan suku bunga instrumen sinyalemen Bank Indonesia yang ditetapkan pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. BI rate mencerminkan kondisi perekonomian di Indonesia. Dengan menaikkan BI Rate, diharapkan dapat mencegah terjadinya capital outflow (penarikan dana ke luar negeri). Karena suku bunga di dalam negeri relatif lebih tinggi daripada suku bunga di luar negeri maka investor lebih tertarik untuk mempertahankan dananya di indonesia. Hal ini terbukti dapat mengurangi penarikan dollar dalam jumlah besar ke luar negeri. Lalu salah satu upaya Bank Indonesia berikutnya adalah intervensi Pasar. Apa itu intervensi pasar dan bagaimana pengaruhnya. Intervensi Pasar merupakan upaya yang dilakukan Bank Indonesia dengan membeli Rupiah dan secara otomatis melepas cadangan devisa (dalam hal ini US Dollar). Hal ini dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah karena ulah spekulan yang memburu US Dollar. Dengan intervensi pasar, maka nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar dapat dipertahankan pada nilai yang diinginkan dengan konsekuensi berkurangnya cadangan devisa kita dalam US Dollar. Sedangkan pengaturan transaksi valuta asing dilakukan untuk memastikan bahwa jual beli US Dollar dilakukan untuk keperluan transaksi yang mengharuskan dalam bentuk US Dollar dan bukan untuk spekulasi demi keuntungan pribadi semata. Dari berbagai upaya yang telah dilakukan Bank Indonesia yang saya sebutkan tadi, hingga saat ini memang belum ada yang dapat secara permanen menstabilkan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, atau setidaknya dapat mengembalikan nilai tukar Rupiah ke nilai sebelum terjadinya lonjakan. Dan lagi-lagi mudah sekali nilai Rupiah mengalami lonjakan setiap kali pasar melakukan aksi negatif. Lalu, bagaimana caranya agar Rupiah dapat lebih stabil dalam menghadapi setiap goncangan dalam perekonomian global? Saya pribadi lebih cenderung menyampaikan gagasan akan peninjauan kembali sistem nilai tukar yang digunakan oleh negara kita saat ini. Mengapa menurut saya sistem nilai tukar yang perlu untuk dikaji? Karena dari sinilah semua bermula. Sistem nilai tukar yang dianut suatu negara akan mempengaruhi apakah stabil atau rentankah nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap guncangan eksternal. Saat ini sistem nilai tukar (kurs) yang digunakan Indonesia adalah sistem nilai tukar mengambang bebas (free floating exchange rate). Menengok ke belakang, Indonesia telah menerapkan tiga sistem nilai tukar. Mulai tahun 1970 sampai tahun 1978, Indonesia menganut sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate). Upaya ketat yang dilakukan untuk mengontrol devisa tetap memaksa Pemerintah Indonesia melakukan devaluasi tiga kali yaitu 17 April 1970 dimana nilai tukar rupiah ditetapkan kembali menjadi Rp. 378 per US Dollar, kemudian pada 23 Agustus 1971 menjadi Rp. 415 per US Dollar dan pada 15 November 1978 dengan nilai tukar sebesar Rp. 625 per US Dollar. Sejak tahun 1978, Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating). Dalam sistem ini, nilai tukar rupiah diambangkan terhadap sekeranjang mata uang (basket of currencies) negara mitra dagang utama Indonesia. Sejak sistem ini dilaksanakan, pemerintah menetapkan kurs indikasi dan membiarkan kurs bergerak di pasar dengan spread tertentu. Penggunaan sistem ini berlaku hingga bulan Juli 1997. Mulai 14 Agustus 1997 hingga sekarang, sistem yang digunakan Indonesia adalah sistem nilai tukar mengambang bebas (floating exchange rate). Nilai tukar rupiah pernah mengalami tekanan yang diakibatkan oleh adanya currency turmoil yang melanda Thailand dan menyebar ke kawasan ASEAN termasuk Indonesia hingga mencapai Rp. 16.000 per US Dollar pada tanggal 15 Juni 1998. Dengan diberlakukannya sistem yang terakhir ini, nilai tukar rupiah sepenuhnya ditentukan oleh pasar sehingga kurs yang berlaku adalah benar-benar pencerminan keseimbangan antara kekuatan penawaran dan permintaan. Lalu sistem mana yang paling bagus untuk negara kita? Menurut saya pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab secara mutlak. Kenapa? Karena jawaban tersebut sangat relatif terhadap waktu dan keadaan perekonomian negara kita. Kita sudah pernah mencoba ketiga sistem nilai tukar tersebut, dan masing-masing menghasilkan kelebihan dan kekurangan pada masanya. Merangkum dari ulasan di awal, mari kita perhatikan beberapa aspek yang terdapat pada masing-masing sistem nilai tukar. Pada sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate), jumlah uang beredar tidak dapat dikendalikan. Cadangan devisa juga harus dipelihara dalam jumlah besar. Kemudian kebijakan yang bersifat inflasioner harus dihindari sehingga pada akhirnya kebijakan Devaluasi seringkali menjadi pilihan yang diambil. Pada sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate), jumlah uang beredar dapat dikendalikan. Cadangan devisa yang dipelihara juga tidak harus dalam jumlah yang besar serta tidak terpojok pada pilihan kebijakan Devaluasi. Dengan memperhatikan masing-masing aspek sistem nilai tukar tersebut dan mencermati kondisi perekonomian pada saat ini, saya pribadi lebih cenderung untuk mendengar ajakan beberapa ekonom nasional kita tempo hari yang mengajak kita kembali pada sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate). Memang ini adalah sesuatu yang “ekstrim “, namun kalo kita tidak mau merubah pijakan kita, maka kecenderungan ekonomi finansial kita di masa mendatang tidak akan jauh bedanya dengan kondisi yang ada sekarang. Memang ada resiko yang harus ditanggung dalam setiap perubahan. Tadi saya sebutkan bahwa dalam sistem nilai tukar tetap, cadangan devisa harus dipersiapkan dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini untuk mengantisipasi agar Bank Indonesia memiliki Dollar dalam jumlah yang cukup pada saat masyarakat berduyun-duyun menukarkan Rupiah dengan US Dollar pada kurs yang ditetapkan tersebut. Namun saya yakin, dengan koordinasi yang baik dengan pemerintah, seharusnya kita tidak khawatir dengan cadangan devisa kita yang “seharusnya melimpah”. Coba saja amati bagaimana banyak negara yang ingin menguasai Indonesia sejak nenek moyang kita. Hal itu disebabkan karena Indonesia pada hakikatnya memiliki kekayaan alam yang melimpah. Bukankah kekayaan alam yang melimpah tersebut seharusnya menjadi devisa yang sangat besar bagi bangsa kita tercinta ini? Yang saya maksud dengan koordinasi yang baik dengan pemerintah adalah mengajak pemerintah untuk mengkaji kembali perjanjian-perjanjian eksplorasi kekayaan alam yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Tahukah Anda betapa banyak kita dirugikan atas hasil eksplorasi kekayaan alam di seluruh wilayah Indonesia? Selama ini kita banyak “dibodohi” oleh negara asing yang melakukan eksplorasi sumber daya alam di Indonesia. Sebut saja exxon mobile, new month, freeport, caltex, shell, cevron, dan masih banyak lainnya. Tahukah Anda bahwa Indonesia mendapatkan 0% dari keuntungan freeport di papua dengan tambang emasnya yang melimpah ruah? Tahukah Anda bahwa perjanjian exxon mobile di blok cepu hanya menghasilkan sharing 50%:50% padahal blok cepu adalah tambang minyak terbesar di indonesia? Yang lebih disayangkan lagi, Pertamina sebagai perusahaan nasional padahal mampu untuk mengelolanya, namun Pemerintah kita hanya tinggal diam. Perjanjian yang dibuat dengan mereka selama ini hanya menguntungkan secara sepihak saja. Hanya karena ulah segelintir orang di pemerintah “warisan orde baru” yang telah “dibungkam” menjadikan perusahaan asing tersebut bebas merajalela bereksplorasi di tanah air tercinta. Sudah saatnya Pemerintah kita didesak untuk melakukan peninjauan ulang seluruh perjanjian-perjanjian perusahaan asing yang melakukan eksplorasi kekayaan alam di Indonesia. Seandainya seluruh eksplorasi kekayaan alam tersebut dimiliki oleh Indonesia, maka kita akan memiliki cadangan devisa yang sangat besar yang mampu untuk mematok nilai Rupiah pada sistem nilai tukar tetap. Saya sangat yakin kita bisa melakukannya seandainya Pemerintah kita juga memegang komitmen ini. Memang solusi yang saya sebut cukup “ekstrim” tadi membutuhkan effort yang luar biasa. Tapi saya yakin, apabila pemerintah kita memang berniat untuk merubah keadaan ini, maka Pemerintah bersama-sama dengan Bank Indonesia akan dapat menciptakan kestabilan nilai Rupiah di masa mendatang. Namun seandainya terlalu banyak pertimbangan dalam implementasi sistem nilai tukar tetap tersebut, maka menurut saya penggunaan sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate) dapat tetap diterapkan, namun dengan penerapan beberapa kebijakan tambahan yang bersifat controlling. Beberapa ekonom nasional pernah menyampaikan pemberlakuan kebijakan kontrol kurs. Konsep kebijakan kontrol kurs dilakukan dengan menerapkan kurs berganda. Apa itu kurs berganda? Pemerintah kita pernah menerapkan kebijakan kurs berganda pada tahun 1950-an dan menghasilkan kegagalan. Namun kurs berganda pada masa itu berbeda dengan kurs berganda yang saya sebutkan di sini. Kurs berganda pada masa itu adalah membedakan kurs yang digunakan untuk barang ekspor dan kurs yang digunakan untuk barang impor. Akibatnya tingkat harga dan upah di dalam negeri cenderung menyesuaikan diri dengan tingkat harga barang-barang impor atas dasar kurs impor yang cenderung tinggi. Akibatnya keuntungan perusahaan-perusahaan ekspor menjadi tertekan karena penerimaan hasil ekspor yang berdasarkan kurs ekspor relatif lebih rendah. Sedangkan kurs berganda yang dimaksudkan pada analisa para ekonom tadi adalah pengenaan kurs yang tinggi untuk impor produk barang mewah atau produk yang tidak atau kurang penting, sedangkan untuk barang modal yang dianggap penting dikenakan kurs murah. Sedangkan kurs berganda yang dimaksudkan pada analisa para ekonom tadi adalah pengenaan kurs yang tinggi untuk impor produk barang mewah atau produk yang tidak atau kurang penting, sedangkan untuk barang modal yang dianggap penting dikenakan kurs murah. Saya sangat yakin, bahwa peninjauan ulang sistem nilai tukar yang diterapkan negara kita akan menjadi bagian yang sangat penting mengawali tujuan tunggal Bank Indonesia untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah.( Augus)

Entry filed under: Ekonomi.

Korupsi….WASPADALAH!!??!! Stimulus = Still Mules..

4 Komentar Add your own

  • 1. kanakteros (Nazar)  |  Maret 20, 2009 pukul 7:24 am

    ya saya setuju asal keseluruhan dari sistem ekonomi kita kembali ke sariah bos..

  • 2. Opik  |  Maret 19, 2009 pukul 8:25 pm

    [ tidak terbaca ] Dinar lebih cucok.

  • 3. kanakteros  |  Maret 19, 2009 pukul 6:12 pm

    masalah nilai tukar ini juga masih jadi perdebatan sengit di kalangan ekonom miq..
    iya gak pake edit, langsung posting miq..

  • 4. lmjaelani  |  Maret 19, 2009 pukul 6:06 pm

    Sudah tepat,

    benar benar tepat kelirunya.

    btw. ndak ada paragrafnya ya? Tiang punya tombol ENTER gratis.
    dikirim kemana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tulisan Terakhir

RSS Kantor Berita Sasak

Disini Udah Ada

IP

Sasak


%d blogger menyukai ini: