Menggugat Asumsi Rasionalitas

Maret 3, 2009 at 2:23 am Tinggalkan komentar

“Sungguh manusia adalah ciptaan yang luar biasa!” demikian penggalan karya Shakespeare dalam ”Hamlet” yang dikutip oleh penulis di bab pertama buku ini. Lirik tersebut kemudian dilanjutkan dengan puji-pujian Shakespeare tentang kemampuan fisik dan olah pikir manusia yang sempurna. Tapi benarkah demikian?

Selama beratus-ratus tahun, ilmu ekonomi dibangun atas dasar asumsi bahwa manusia berpikir secara rasional dan mampu mengambil keputusan yang rasional. Bila dihadapkan pada sejumlah pilihan (ilmu ekonomi pada dasarnya adalah ilmu melakukan pilihan), manusia diasumsikan mampu menghitung keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan lalu menjatuhkan pilihan yang terbaik bagi dirinya, yaitu yang memberi keuntungan maksimal.

Buku ini berangkat dari keyakinan sang penulis bahwa manusia sesungguhnya justru berpikir secara tidak rasional (irrational), berlawanan dengan asumsi rasionalitas yang selalu digunakan dalam analisis ekonomi konvensional. Penulis juga berkeyakinan bahwa ketidakrasionalan daya pikir manusia tersebut sebenarnya terjadi berulang-ulang sehingga dapat diperkirakan (predictable).

Dan Ariely, penulis buku ini, adalah profesor dari MIT di bidang behavioral economics, suatu cabang ilmu ekonomi yang mengawinkan ilmu ekonomi dan ilmu psikologi. Behavioral economics mencoba menguak apa yang sebenarnya terjadi di alam pikiran manusia ketika ia melakukan pilihan-pilihan dalam hidup. Ilmu behavioral economics tidak menerima begitu saja asumsi rasionalitas yang dipakai oleh ilmu ekonomi konvensional, dan inilah yang menjadi daya tarik utama buku ini. Di balik kesempurnaan akal pikir yang dimilikinya, ternyata manusia melakukan “kesalahan-kesalahan” ketika mengambil suatu keputusan (paradox of human judgment).

Kita akan sering tersenyum mengiyakan temuan-temuan yang diungkap dalam 13 bab buku ini. Kita seolah-olah ditelanjangi habis-habisan oleh penulis dan dipaksa mengakui betapa tidak rasionalnya diri ini. Membaca buku ini ibarat melihat cermin besar dibentangkan di muka kita sendiri.

Pada akhir setiap bab, kita akan berhenti sejenak dan merenung tentang diri kita masing-masing. Apakah memang daya pikir kita selemah itu sehingga mudah “tertipu”? Apakah benar bahwa otak kita berpikir secara tidak rasional? Parahnya lagi, apakah benar irasionalitas kita itu terjadi berulang-ulang sehingga menjadi sesuatu yang sistematis?

Kekuatan lain buku ini adalah gaya penulisannya yang lugas dan membumi. Meskipun dirinya adalah seorang profesor ekonomi (yang kerap dianggap sebagai profesi yang kaku dan serius), penulis dengan lincah bermain kata-kata dan menyelipkan humor dalam tulisan-tulisannya. Selain itu, setiap bab disajikan secara terpisah sehingga kita bisa memilih untuk memulai membaca dari bab mana pun yang kita sukai dan tidak perlu mengingat-ingat kaitan suatu bab dengan bab lain. Namun demikian, seluruh bab pada buku ini terikat pada satu tema utama: irasionalitas cara berpikir manusia.

Sedemikian mudahnya membaca buku ini, pembaca mungkin akan lupa bahwa setiap bab buku ini sesungguhnya dibangun atas eksperimen penulis di kehidupan nyata. Eksperimen-eksperimen ini terkadang “nyentrik” seperti juga ide-ide penulis yang “liar” berkelana mencari jawaban atas perilaku manusia yang irasional. Bagi pembaca yang berminat pada aspek akademis dari buku ini, pada bagian akhir disediakan rujukan ilmiah berupa daftar jurnal dan paper yang menjadi dasar empiris penulisan setiap bab buku ini (hal 260).

Memanfaatkan irasionalitas

Lalu apa manfaat membaca buku ini? Selain untuk hiburan pribadi (pembaca dijamin tersenyum geli menertawakan kebodohannya sendiri ditelanjangi), buku ini sebenarnya mengandung pelajaran penting bagi para pembacanya, baik sebagai individu dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai pembuat kebijakan di lingkungan bisnis dan pemerintahan.

Sebagai contoh, Bab 1 yang berjudul ”The Truth about Relativity”, menunjukkan bagaimana toko elektronik mengelabui otak kita dengan teknik framing. Pemilik toko biasanya memajang berbagai TV dengan merek, ukuran, dan harga yang berbeda, secara berdekatan pada satu deret sedemikian rupa sehingga otak kita diarahkan untuk memilih TV tertentu yang memang sudah direncanakan oleh pemilik toko. Sejumlah TV lain yang dipasang di kiri dan kanan TV yang menjadi “target” tadi hanyalah berfungsi sebagai pengecoh (decoy) (hal 1).

Pemilik toko tersebut dengan cerdas memanfaatkan kelemahan otak manusia yang tidak mampu melakukan perbandingan secara obyektif dan cenderung melihat sesuatu secara relatif. Berbekal pengetahuan tersebut, pemilik toko bisa memaksimalkan keuntungannya dengan memasang harga tinggi pada TV yang memang menjadi “target” penjualannya. Sebagai konsumen, pemahaman tentang cara kerja otak yang irasional tadi bisa menyelamatkan kita dari “jebakan” yang dipasang pemilik toko.

Contoh lain adalah Bab 3 yang berjudul ”The Cost of Zero Cost”, yang membuktikan bahwa manusia memberi respons yang tidak rasional kepada barang “gratisan” (hal 49). Kita umumnya merasa barang gratis sebagai anugerah luar biasa yang tidak boleh dilewatkan. Beberapa di antara kita bahkan sampai merasa “rugi” bila tidak memanfaatkan barang gratis tersebut.

Pemasar yang jeli kemudian memanfaatkan irasionalitas kita ini dengan memberi voucher belanja gratis (yang bernilai kecil) asalkan kita mau berbelanja di tokonya dalam jumlah besar. Tak jarang kita kemudian berbelanja sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya (dan dalam jumlah yang besar) hanya karena merasa sayang melewatkan voucher belanja gratis tadi. Setelah membaca buku ini, mungkin kita perlu berpikir berkali-kali sebelum tergoda oleh voucher belanja gratis.

Topik menarik lain yang dikupas oleh buku ini adalah efek plasebo (placebo effect) yang selama ini sudah menjadi perdebatan panjang di kalangan medis. Dalam uraiannya di Bab 10 ”The Power of Price” (halaman 173), penulis dengan kreatif memasukkan unsur harga dalam eksperimen pemberian obat sakit kepala (painkiller). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa lebih banyak pasien yang sembuh ketika diberi obat seharga 2,50 dollar dibandingkan obat seharga 10 sen dollar meskipun kedua obat ini sebenarnya sama dan hanya berbeda label harganya.

Produsen obat yang cerdas tentu akan memperhitungkan irasionalitas daya pikir manusia ini dalam menetapkan harga produknya (pricing strategy) sehingga dapat meraup keuntungan sebesar-besarnya. Bagi kita selaku konsumen, ada baiknya untuk berhati-hati ketika memilih obat atau jasa layanan medis. Our mind is playing trick on us!

Bahasa populer

Buku ini menambah panjang daftar buku-buku ekonomi yang ditampilkan secara “ngepop”. Sebut saja, Undercover Economist, The Tipping Point, The Wisdom of Crowds, dan tentu saja yang paling fenomenal adalah Freakonomics. Tren yang muncul beberapa tahun terakhir ini mampu menghadirkan sisi lain ilmu ekonomi yang selama ini dianggap rumit, mengawang-awang, dan membosankan. Makin banyak publik yang tertarik dengan ilmu ekonomi setelah tahu bahwa ilmu ekonomi juga bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk dipelajari. Konsep-konsep ekonomi ternyata begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari dan bukan hanya konsumsi para pejabat pemerintah di rapat kabinet. Para dosen ekonomi mungkin perlu menjadikan buku-buku semacam ini sebagai pelengkap bahan ajar di samping textbook berisi rumus dan teorema yang membuat dahi mengerut ketika membacanya.

Agak sulit untuk menemukan cela pada buku ini. Tema yang diangkat sangat unik dan menarik, bahasa yang digunakan lugas sehingga mudah dicerna, dan penampilan bukunya pun nyaris sempurna. Namun demikian, bagi para penganut ilmu ekonomi mainstream, buku ini bisa jadi dianggap sebagai sebuah penjelasan fenomena ekonomi yang terlalu sederhana. Studi yang dilakukan sangat terbatas (semua eksperimen dilakukan di lingkungan kampus di Amerika Serikat dengan responden mahasiswa MIT dan Duke University) sehingga tidak bisa disimpulkan sebagai perilaku manusia pada umumnya. Eksperimen yang dilakukan belum memperhitungkan keragaman budaya dan nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat.

Terlepas dari kekurangan academic rigor tersebut (yang sering menjadi pakem wajib dalam penelitian ilmu ekonomi), buku ini layak dikoleksi oleh Anda yang memiliki minat pada ilmu ekonomi. Pemahaman Anda tentang ilmu ekonomi yang konvensional mungkin perlu disempurnakan karena ternyata banyak hal tidak rasional yang menjadi dasar perilaku manusia. Bagi Anda yang sekadar membutuhkan bacaan menghibur, Anda akan tertawa bersama buku ini menyadari betapa “bodohnya” otak kita.

Link asli disini

Entry filed under: Buku.

Kontrak Drafting & Advokasi Hukum Terhadap Panitia Pengadaan Barang /Jasa & Kepala Biro, Pimpinan dari Ancaman Korupsi Mangap…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Tulisan Terakhir

RSS Kantor Berita Sasak

Disini Udah Ada

IP

Sasak


%d blogger menyukai ini: