Archive for Juni, 2008

Naluri Kepahlawanan

Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.

Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhulang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.

Mungkin, karena itu pula para pahlawan selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit. Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.

Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan meiihat tantangan sebagai beban berat maka mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Namun, orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu: Ini untukku. Atau seperti ungkapan orang-orang shadiq dalam perang Khandaq yang diceritakan Al-Qur’an,

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (A-Ahzab: 22)

Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Hal itu akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, “Apa engkau dapat melakukan hal yang sama?” Dan jika ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, ia akan menemukan dorongan yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Dalam serial Jenius-Jenius Islam, Abbas Mahmud Al-Aqqad menemukan kunci kepribadian Abu Bakar As-Shiddiq dalam kata kekaguman kepada kepahlawanan. Kunci kepribadian, kata Al-Aqqad, adalah perangkat lunak yang dapat menyingkap semua tabir kepribadian seseorang. Ia berfungsi seperti kunci yang dapat membuka pintu dan mengantar kita memasuki semua ruang dalam rumah itu. Dan kita hanya dapat memahami pekerjaan-pekerjaan besar yang telah diselesaikan Abu Bakar dalam kunci rahasia ini.

Apakah Anda juga memiliki kunci rahasia itu? Saya tidak tahu.

Juni 18, 2008 at 8:16 am Tinggalkan komentar

Produktivitas Kolektif

Enteng benar Ummu Salamah menjawab pertanyaan Anas bin Malik. Khadam Rasulullah SAW ini diam-diam mengamati sebuah kebiasaan Sang Rasul yang rada berbeda ketika beliau menemui Ummu Salamah dan ketika beliau menemui Aisyah.
Rasulullah SAW selalu secara langsung dan refleks mencium Aisyah setiap kali menemuinya, termasuk di bulan Ramadhan. Tapi, tidak begitu kebiasaan beliau saat bertemu Ummu Salamah. Nah, kebiasaan itulah yang ditanyakan Anas bin Malik kepada Ummu Salamah, yang kemudian dijawab begini: “Rasulullah SAW tidak dapat menahan diri ketika melihat Aisyah.”
Jawabannya Cuma begitu.
Penjelasannya sesederhana itu.
Datar. Yah, datar saja.

Seperti hendak menyatakan sebuah fakta tanpa pretensi. Sebuah fakta yang diterima sebagai suatu kewajaran tanpa syarat. Tanpa penjelasan.
Sudah begitu keadaannya, kenapa tidak?
Atau apa yang salah dengan fakta itu?
Apa yang harus dicomplain dari kebiasaan itu?
Itu sama sekali tidak berhubungan dengan harga diri yang harus membuat ia marah. Atau menjadi keberatan yang melahirkan cemburu. Mati rasakah ia? Hah? Tapi siapa berani bilang begitu?
Terlalu banyak masalah kecil yang menyedot energi kita. Termasuk banyak pertengkaran dalam keluarga. Sebab kita tidak punya agenda-agenda besar dalam hidup. Atau punya tapi fokus kita tidak ke situ. Jadi kaidahnya sederhana: kalau energi kita tidak digunakan untuk kerja-kerja besar, maka perhatian kita segera tercurah kepada masalah-masalah kecil.
Karena mereka punya agenda besar dalam hidup, maka mereka tidak membiarkan energi mereka terkuras oleh pertengkaran-pertengkaran kecil, kecuali untuk semacam “pelepasan emosi” yang wajar dan berguna untuk kesehatan mental.
Kehidupan mereka berpusat pada penuntasan misi kenabian di mana mereka menjadi bagian dari tim kehidupan Sang Nabi. Jadi masalah kecil begini lewat begitu saja. Tanpa punya bekas yang mengganggu mereka. Fokus mereka pada misi besar itu telah memberi mereka toleransi yang teramat luas untuk membiarkan masalah-masalah kecil berlalu dengan santai.
Fokus pada misi besar itu dimungkinkan oleh karena sejak awal akad kebersamaan mereka adalah janji amal. Sebuah komitmen kerja. Bukan sebuah romansa kosong dan rapuh. Mereka selalu mengukur keberhasilan mereka pada kinerja dan pertumbuhan kolektif mereka yang berkesinambungan sebagai sebuah tim.
Persoalan-persoalan mereka tidak terletak di dalam, tapi di luar. Mereka bergerak bersama dari dalam ke luar. Seperti sebuah sungai yang mengalir menuju muara besar: masyarakat. Mereka adalah sekumpulan riak yang menyatu membentuk gelombang, lalu misi kenabian datang bagai angin yang meniup gelombang itu: maka jadilah mereka badai kebajikan dalam sejarah kemanusiaan.
Cinta memenuhi rongga dada mereka.
Dan semua kesederhanaan, bahkan kadang kepapaan, dalam hidup mereka tidak pernah sanggup mengganggu laju aliran sungai mereka menuju muara masyarakat.
Mereka bergerak. Terus bergerak. Dan terus bergerak.
Dan romansa cinta mereka tumbuh kembang di sepanjang jalan perjuangan itu

Juni 17, 2008 at 8:47 am Tinggalkan komentar

Tradisi Itsar

Di Makassar ada ibu dan anak meninggal setelah tiga hari kelaparan. Sudah lama keluarga penarik becak di wilayah lumbung padi nasional itu, hidup serba berkekurangan.

Perjuangan hidup yang sangat berat dan tak mampu lagi disangga harus berujung dengan kematian istri dan anak terkasih. Hanya untuk makan sekalipun hidup menjad terasa pedih dan memilukan, kendati yang menjalaninya terlihat pasrah.

Masih banyak kisah-kisah warga bangsa yang penuh derita di pelosok tanah air. Di sejumlah daerah keluarga-keluarga miskin terpaksa makan nasi aking (nasi bekas yang dijemur ulang) dan terkena busung lapar, ketika beras dan nasi yang murah sekalipun tak mampu lagi mereka beli.

Boleh jadi ada petinggi negeri yang tak percaya rakyatnya miskin, karena yang dilihat secara kasat mata adalah warga bangsa yang hidupnya makmur di kota-kota besar sambil dibuai angka statistik BPS tentang jumlah orang miskin yang cenderung menurun.

Sungguh tragis. Itulah kata yang paling tepat untuk melukiskan panorama sangat ironi, bagaimana di sebuah negara setelah 63 tahun merdeka dan banyak orang hidup serba mewah di kota-kota besar, justru masih terdapat orang-orang miskin dan berkelaparan.

Bangsa ini seakan tak henti-hentinya menyimpan dan memproduksi paradoks. Tak mengherankan ketika badan dunia menunjuk angka kemiskinan di negeri ini cukup tinggi (29%), pemerintah justru tak mempercayainya dan mematok angka 15,5%. Tak ada kemiskinan yang serius di negeri tercinta ini, begitulah kira-kira.

Ada wilayah kesadaran yang harus dibongkar dan bahkan direhabilitasi dari para elite dan pejabat publik. Bagaimana memiliki getaran hati dan kesadaran diri untuk cepat tanggap dan kemudian bertanggungjawab dalam menyelesaikan urusan-urusan rakyat yang penting dan mendesak.

Bagaimana memiliki sense of crisis yang tingggi, sehingga mau dan mampu mendahulukan kepentingan-kepentingan rakyat ketimbang lain-lainnya. Bagaimana menempatkan dirinya benar-benar sebagai pelayan dan pengabdi rakyat, bukan sebagai penguasa dan yang harus dilayani rakyat. Jadi, soal kesadaran hati dan alam pikiran.

Khalifah
Kita jadi ingat Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azis semasa hidupnya menjadi khalifah dalam memimpin umat manusia. Begitu menjadi khalifah, seluruh hidupnya diabdikan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Padahal keduanya sebelum menjadi khalifah adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam serba berkecukupan. Keduanya sukses bukan hanya dalam membangun pemerintahan yang bersih, bahkan dalam memakmurkan dan mengurus nasib rakyat.

Kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain lebih dari keperluan dirinya itulah yang oleh para sahabat Nabi diamalkan dalam tradisi itsar. Kita ingat kisah Khuzaifah dalam perang Yarmuk. Kala itu banyak orang terluka dan kehausan memerlukan air. Khudaifah membawa minum untuk diberikan kepada keponakannya yang terluka, tetapi di kejauhan ada yang meminta air. Keponakan Khuaifah tak jadi minum dan meminta pamannya untuk memberikan air itu ke sahabat lain yang memerlukan.

Ketika tiba pada sahabat lain, dari kejauhan ada pula yang meminta air, sahabat yang kedua ini pun tak jadi minum dan dia meminta Khuzaifah untuk memberikan air itu kepada sahabat lain yang sangat memerlukannya. Tiba di sahabat yang ketiga ketika Khuzaifah hendak memberi minum, ternyata telah meninggal.

Khudaifah segera lari ke sahabat yang kedua, ternyata juga telah meninggal. Akhirnya Khudaifah lari kembali ke keponakannya yang semula memerlukan air, tapi Allah pun telah mengambil nyawa syuhada yang satu ini. Inilah kisah tentang itsar, bagaimana para sahabat Nabi mengamalkan ajaran Islam untuk mengutamakan atau mendahulukan kepentingan orang lain melebihi kepentingan dirinya sendiri.

Kita akan bangga sekali manaka para elite pejabat publik memiliki jiwa dan tradisi itsar untuk rakyat. Bagaimana mendahulukan dan mengutamakan kepentingan dan nasib rakyat sebesar-besarnya melebihi kepentingan dirinya sendiri.

Mungkin tidak seekstrim kisah para sahabat Nabi yang maqam ruhaniahnya sangat tinggi melampaui orang-orang biasa, namun setidak-tidaknya bersungguh-sungguh dan memihak nasib rakyat yang serba berkekurangan tanpa harus mengorbankan diri sendiri.

Dan tentu saja tidak akan mengorbankan diri karena para elite pejabat publik itu segala urusan dirinya telah ditanggung negara, bahkan dengan fasilitas yang serba berlebihan.

Jadi, sudah saatnya mengutamakan dan mengurus kepentingan rakyat. Bukankah mereka berada di jabatan-jabatan publik itu atasnama negara dan bekerja untuk mengurus urusan rakyat. Sudah selayaknya berkhidmat untuk rakyat dengan spirit itsar.

Itsar adalah kekayaan ruhaniah yang melekat dalam jiwa dan sikap hidup keseharian yang membuahkan amal dan tindakan untuk mendahulukan kepentingan orang lain yang membutuhkan. Dari itsar itulah lahir sikap ta’awun, yakni sikap dan tindakan untuk membantu atau menolong sesama. Jika itsar dan ta’awun bersenyawa dengan amanat jabatan, maka akan melahirkan bukan hanya kedermawanan bahkan kebijakan-kebijakan publik yang pro-dhu’afa dan mustadh’afin.

Dengan demikian tidak akan ada kesenjangan yang menganga antarkelompok masyarakat, juga tak akan lahir kesenjangan antara negara dan rakyat seperti sekarang ini. Alangkah indahnya manakala para elite dan pejabat publik, juga warga bangsa lainnya, memiliki jiwa itsar yang penuh mozaik ruhaniah itu.

Banyak musuh
Tapi itsar tak mudah diwujudkan karena banyak musuhnya. Musuh itsar ialah ‘ananiyah-nafsiyah. Egoisme diri yang berlebihan. Penyakit egoisme inilah yang kini meluas di negeri ini.

Orang semakin diajarkan dan diciptakan kondisi untuk mencintai dirinya melebihi apapun. Mengejar ambisi dan mobilitas diri hingga tak terbatas dengan mengerahkan segala apapun yang dimiliki. Mengutamakan kepentingan diri melebihi takaran kewajaran, sambil mengorbankan kepentingan orang lain.

Inilah virus “struggle for life” yang diajarkan secara fanatik oleh sangkar-besi modernisme ala Darwinian yang melahirkan sosok-sosok manusia petarung mobilitas diri yang luar-biasa.

Musuh itsar yang lain ialah israf, kerakusan. Sikap loba dan tamak telah mewabah dan menjadi pakaian budaya di negeri ini. Gaji dan tunjangan besar masih terasa kecil, sehingga tak henti-hentinya mengakali anggaran negara.

Jabatan tinggi masih harus terus dikejar hingga ke tahta lebih puncak lagi. Sebagian masyarakat pun banyak terkena penyakit “gila jabatan”, terlalu mengormati orang karena jabatannya melebihi takaran, sehingga membuat orang menjadi lupa diri.

Padahal ketika nafsu loba, tamak, dan kerakusan itu telah mewabah maka yang muncul ialah nafsu ketakpernahpuasan. Jika orang merambah milik orang karena kelaparan, maka yang dimakan sebatas dia lapar. Sebaliknya ketika orang menjarah karena kerakusan, maka apapun akan dimakannya dan tak akan pernah puas hingga musibah atau bahkan ajal menghentikannya.

Kerakusan memang selalu memproduksi ketidakpernahpuasan dalam hidup. Mobilitas dan capaian hidup menjadi tak pernah ada terminalnya untuk berhenti. Itulah penyakit alha-kum at-takatsur dalam lukisan Al-Quran. Orang tak henti-hentinya mengejar materi, kedudukan, dan apapun yang menyenangkan dalam kehidupan duniawi hingga tak ada batasnya untuk berhenti.

Datanglah penyakit cinta dunia dan takut mati secara berlebihan. Lalu, orang menjadi tidak pernah mau peduli dengan nasib sesama. Matahatinya buta-tuli hingga mati-suri terhadap nasib rakyat. Itsar pun akhirnya jauh panggang dari api.

(Haedar Nashir )

Juni 17, 2008 at 8:39 am Tinggalkan komentar

Sesendok Madu untuk Indonesia

SAYA pernah terkesan dengan sebuah kisah yang saya dapat ketika saya masih belajar di bangku Madrasah Aliyah Program Khusus Surakarta.

Kisah itu disampaikan oleh seorang ustad untuk memotivasi kami agar tidak meremehkan sebuah tanggung jawab sekecil apa pun. Kisah tentang bejana raja yang berisi air. Saat itu saya tidak tahu dari mana ustad mendapatkan kisah itu.

Dari buku apa,dari kitab apa? Belakangan saya mendapati kisah serupa termaktub juga dalam buku Lentera Hati karya Prof Quraish Shihab. Dikisahkan, suatu ketika seorang raja yang bijaksana ingin menguji kesadaran dan loyalitas rakyatnya.

Sang raja menitahkan agar setiap orang pada malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu, untuk dituangkan dalam bejana yang telah disediakan di puncak sebuah bukit tak jauh dari ibu kota kerajaan. Seluruh rakyatnya pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Akan tetapi, ada seorang rakyat yang berpikiran nakal, terlintaslah satu cara untuk mengelak dari titah raja.Dalam hati ia berkata,”Aku akan membawa sesendok penuh,tetapi bukan madu.Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang.

Tak akan ada yang tahu. Raja juga tidak akan tahu kalau aku cuma bawa sesendok air. Dan Bukankah sesendok air tidak akan mempengaruhi satu bejana berisi madu yang dibawa oleh seluruh rakyat negeri ini” Malam yang ditentukan telah berlalu. Dan tibalah saat yang bersejarah untuk melihat isi bejana.

Betapa kagetnya sang raja, juga seluruh rakyatnya, ternyata bejana yang besar itu hanya penuh dengan air saja. Rupanya seluruh rakyat negeri itu memiliki pikiran nakal yang sama.Punya ide negatif yang sama. Mereka berpikir hanya dirinyalah yang membawa sesendok air,yang lain pasti membawa madu.Mereka berpikir bahwa jika cuma dirinya saja yang membawa sesendok air dan seluruh rakyat membawa madu, maka tidak apaapa.

Tidak berpengaruh apa-apa. Seluruh rakyat berpikiran yang sama, jadinya bejana itu tidak berisi madu seperti yang diharapkan sang raja,tapi berisi air. Dulu, saat mendengar cerita itu saya sempat tersenyum karena lucu.Namun belakangan ini, ketika mengingat kembali kisah bejana berisi air itu di sela-sela aktivitas saya,saya tidak lagi bisa menemukan perasaan lucu itu.

Sebaliknya, yang terbit justru perasaan miris, yang tiba-tiba mencengkeram batin saya. Ada rasa takut bahwa dua adegan dalam kisah di atas tidak lagi menjadi cerita dongeng belaka, tapi telah sungguh-sungguh, menjelma menjadi sebuah potret atas kenyataan yang sedang berlangsung di negeri kita.

Di mana seluruh penduduknya adalah aktor dengan watak yang serupa dalam dua cerita di atas. Jujur, kita masih sangat sering menjumpai dan mendengar adanya oknum pegawai negeri yang keluyuran di tengahtengah jam kerja. Dia mungkin berpikir, ”Ah cuma setengah jam.Tidak akan mengganggu kinerja. Tidak akan merugikan negara.Tidak akan menghambat kemajuan negeri ini.

”Cobalah kita renungkan jika ada ratusan ribu pegawai negeri yang berpikiran dan berperilaku seperti itu, berapa besar kerugian negara ini. Berapa besar jumlah uang rakyat yang digunakan untuk menggaji orang-orang yang kerjanya keluyuran seperti itu.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar ada oknum guru yang membocorkan kunci jawaban ujian nasional. Mungkin guru itu berpikiran sangat pragmatis, ”Ah yang aku beri tahu kunci jawaban itu cuma satu dua orang muridku. Tidak akan mempengaruhi SDM bangsa Indonesia.

” Saya sangat khawatir jika ternyata yang berpikiran tidak disiplin dan sembrono seperti itu ternyata tidak satu dua guru,bagaimana jika puluhan ribu guru? Kita juga masih sering mendengar berita pejabat dan anggota dewan yang berperilaku amoral. Hotel prodeo sesak oleh oknum pejabat dan anggota dewan yang terbukti korupsi. Mungkin saat mereka melakukan korupsi berpikiran, ”Ah jika aku ambil sedikit kan tidak apaapa.

Negara ini kaya, diambil sedikit tidak kentara dan tidak berpengaruh apa-apa.” Bagaimana jika pikiran jahat seperti itu masih mengakar di kepala para anggota dewan.Apa yang akan terjadi pada negeri ini? Berita meninggalnya Sophan Sophian mengejutkan kita semua. Beliau meninggal karena kecelakaan di jalan raya, di Sragen.Kecelakaan karena lubang kecil saja di jalan raya.

Mungkin pejabat yang bertanggung jawab saat tahu ada jalan yang lubang, dalam benaknya muncul pikiran, ”Ah cuma lubang kecil.Tidak apaapa. Tidak mempengaruhi maju mundurnya Indonesia.” Ya, cuma lubang kecil. Bagaimana jika yang jatuh kemudian tewas karena lubang kecil di jalan itu adalah orang nomor satu atau nomor dua di Indonesia? Bagaimana jika yang jatuh adalah seorang ilmuwan yang sangat penting bagi Indonesia dan dunia? Untuk menyelamatkan Indonesia sebenarnya tidak perlu teori yang muluk-muluk dan njelimet.

Cukuplah dimulai dari membenahi cara berpikir seluruh elemen negeri ini.Jika seluruh elemen bangsa ini, seluruh rakyat, dan seluruh aparatur pemerintahnya berpikir positif,bersih,jujur, bertanggung jawab dan tidak mementingkan diri sendiri,insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar.

Namun, jika ada satu orang saja di negeri ini berpikiran jahat, culas, mengkhianati negara,maka sangat berat untuk membangun Indonesia sebagai negara yang besar,makmur,dan sejahtera. Cukuplah jika Indonesia meminta sesendok madu,jangan sekali-kali––mulai presiden sampai rakyat jelata––berpikir untuk membawa sesendok air, apalagi berpikir tidak membawa apa-apa.

Berilah Indonesia sesendok madu, maka bejana Indonesia akan penuh madu. Jika Indonesia meminta untuk tidak korupsi,untuk bertanggung jawab, jangan pernah ada yang tebersit untuk korupsi meskipun hanya sebutir kerikil,insya Allah kita akan bangkit, maju, dan jaya. Mari kita beri sesendok madu untuk bejana Indonesia. Mari!

Jakarta,19 Mei 2008

Habiburrahman El Shirazy

Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat Ayat Cinta

Juni 17, 2008 at 8:20 am Tinggalkan komentar

Melankolik

Kemanjaan. Itu sifat yang natural yang banyak ditemukan dalam kehidupan pribadi pahlawan mukmin sejati. Tapi itu berbeda dengan sifat melankolik, semacam kelemahan emosional yang membuat seorang pahlawan terkalahkan oleh dorongan-dorongan emosinya, seperti cinta dan benci, yang setiap saat dapat mengalihkan arah hidupnya. Di sini cinta itu tidak menjadi sumber energi jiwa, tapi berubah menjadi beban yang boleh jadi dapat mencabut karunia kepahlawanan yang telah disiapkan untuknya.

Tampaknya inilah rahasia besar di balik peringatan Allah swt dalam Al-Qur’an, bahwa istri, anak-anak, orang tua, atau siapa saja yang kita cintai, setiap saat dapat menjadi musuh bagi kita. Mungkin dalam bentuk permusuhan langsung, tapi bisa juga dalam bentuk cinta yang berlebihan, yang berkembang sedemikian rupa menjadi ketergantungan jiwa.

Cinta seperti itu pasti tidak akan menjadi sumber energi dan kekuatan jiwa. Ia akan menjadi sumber kecemasan dan ketakutan. Kecantikan sang istri akan berubah menjadi ancaman yang membuat kita ngeri membayangkan perpisahan. Tidak akan pernah ada karya besar yang lahir dari jiwa yang tergantung pada emosi-emosinya sendiri, yang takluk pada perasaan-perasaannya sendiri, walaupun itu bernama cinta.

Itulah sebabnya Abu Bakar pernah menyuruh anaknya, Abdullah, menceraikan istrinya. Itu karena beliau melihat bahwa anaknya terlalu mencintai istrinya, dan cintanya telah berubah menjadi semacam ketergantungan. Ketergantungan itu membuatnya takut berpisah dengan istrinya, bahkan kadang untuk sekadar melakukan shalat jamaah di masjid. Umar Bin Khattab juga pernah menyuruh anaknya, Abdullah Bin Umar, yang notabene merupakan satu dari tujuh ulama besar di kalangan sahabat, untuk menceraikan istrinya, dalam kasus yang sama.

Cinta adalah sumber kekuatan jiwa yang dahsyat. Tapi ketergantungan adalah kelemahan jiwa yang fatal, yang dalam banyak hal merupakan sumber kehancuran. Ada banyak pahlawan yang kehilangan momentum kepahlawanannya karena kelemahan jiwa ini.

Maka para pahlawan mukmin sejati selalu menanamkan sebuah tradisi dalam dirinya: “Jagalah jarak tertentu terhadap siapapun yang engkau cintai. Sebab kita tidak akan selalu bersamanya setiap saat. Takdir mungkin memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai setiap saat. Tapi perjalanan menuju kepahlawanan tidak boleh berhenti.”

Tradisi itu yang membuat para pahlawan mukmin sejati selalu mengontrol pergerakan emosinya secara ketat. Mereka harus dapat mendeteksi secara dini kapan saatnya cinta menjelma menjadi ketergantungan yang fatal. Suatu saat Imam Syahid Hasan Al-Banna meninggalkan anaknya yang sedang sakit parah, atau mungkin sekarat, untuk sebuah acara da’wah. Istrinya telah mendesaknya untuk meninggalkan acara tersebut demi anaknya. Tapi ia tetap pergi, sembari berkata: “Saya tidak akan pernah sanggup menyelamatkan anak ini, walaupun saya tetap berada di sisinya.” Toh anak itu masih tetap hidup hingga kini.
Mungkin ini bukan kasus yang dapat digeneralisasi. Tapi para pahlawan mukmin sejati selalu dapat menangkap jenak-jenak yang rumit ketika ia akan mengukir legenda kepahlawanannya.

Anis Matta

Juni 13, 2008 at 4:08 am Tinggalkan komentar

Karena Jiwa Punya Hajat

Keagungan. Keluhuran. Ketinggian. Hanya itu yang ada pada cinta misi. Romantikanya juga ada. Tapi tetap dalam bingkai itu. Kita sebut itu romantika perjuangan. Seperti kita memandang indahnya pelangi yang menggores langit. Mengagumkan. Mempesona. Tapi ada jarak. Itu keindahan yang dilukis oleh nilai: kekuatan yang memvisualisasi sisi malaikat dari dalam diri kita ke kanvas kenyataan, lalu melegenda dalam riwayat sejarah.

Tapi manusia tercipta dari tanah. Dan tanah punya tabiatnya sendiri. Juga punya rasa, punya mau, punya hajatnya sendiri. Juga punya permintaannya sendiri dari asal usul ini kehidupan manusia tersublimasi menjadi riwayat yang rumit dan kompleks. Begitu juga cinta jiwa yang lahir dari sini. Kalau dalam cinta misi perasaan bergerak mengikuti pikiran dan nilai, dalam cinta jiwa perasaan bergerak memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan akan kegenapan. Kebutuhan akan kesatuan.

Sendiri. Sepi. Itu musuh jiwa manusia. Sebab alam ini termasuk kita-tercipta berpasangan. Begitu juga kita: kita semua punya pasangan hidup dalam perkawinan dan pasangan social dalam bermasyarakat. Perjalanan menemukan pasangan jiwa adalah kebutuhan eksistensial. Sampai kita menembus ruang dan waktu yang panjang: “sebab keterpisahan ini,” kata Rumi, “hanya tipu daya waktu.”

Sebab ia lahir dari kebutuhan akan kegenapan dan kesatuan, maka cinta jiwa mensyaratkan adanya penerimaan. Tidak ada pertemuan tanpa penerimaan. Syarat ini tidak selalu ada dalam cinta misi. Tapi syarat ini pula yang membuat cinta jiwa menjadi rumit. Sebab asas penerimaan jiwa ini juga beragam. Ada factor kesamaan. Ada factor kegenapan. Ada factor keseimbangan. Seperti dua sungai besar yang bertemu dalam samudera yang sama lalu menciptakan gelombang cinta yang dahsyat. Itu yang lahir dari kesamaan.

Atau lidah api yang menyala-nyala namun dipadamkan oleh air yang sejuk. Cinta yang ini lahir dari kebutuhan akan keseimbangan. Atau seperti air yang bening yang mengaliri lahan tanah yang subur lalu melahirkan taman kehidupan yang indah. Ini kegenapan jiwa yang melahirkan cinta.

Kerumitan terletak pada pencarian “meeting point” dari dua jiwa. Itu pada kesamaan atau kegenapan atau keseimbangan antara dua karakter. Hampir tidak ada pertemuan jiwa di luar ketiga meeting point itu. Bayangkanlah jika yang terjadi sebaliknya. Api bertemu angin akan menciptakan kebakaran yang ganas. Air bertemu angin yang melahirkan gelombang tsunami.

Baik dalam perkawinan atau perkawanan kita menemukan kerumitan itu. Itu masalah kecocokan. Sebab harus ada dua tangan untuk bisa bertepuk. Dua jiwa hanya mungkin bisa bertemu dan menyatu jika hajat mereka sama. Hikmah itulah yang disampaikan Rasullullah saw, “Jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.”

Juni 12, 2008 at 2:00 pm Tinggalkan komentar

Hari Ini..

Alhamdulillah akhirnya blog ini bisa terwujudkan dari keinginan yang terpendam sekian lama. Dan masih bingung juga mau nulis apa..

ya  sudahlah

Juni 12, 2008 at 6:53 am Tinggalkan komentar


Juni 2008
M S S R K J S
« Mei   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Tulisan Terakhir

RSS Kantor Berita Sasak

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Disini Udah Ada

IP

Sasak